Benarkah Motor Listrik Lebih Cepat Rusak dari Motor BBM? Ini Faktanya
Motor listrik sering dianggap lebih cepat rusak dibanding motor berbahan bakar bensin, tetapi benarkah demikian?
Popularitas motor listrik terus meningkat seiring dorongan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Namun di balik pertumbuhan tersebut, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan daya tahan motor listrik. Salah satu anggapan yang paling sering muncul adalah motor listrik lebih cepat rusak dibanding motor berbahan bakar minyak (BBM).
Faktanya, para ahli otomotif menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Motor listrik dan motor BBM memiliki karakteristik serta kebutuhan perawatan yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan hanya dari sisi usia pakai semata.
Secara teknis, motor listrik justru memiliki jumlah komponen bergerak yang jauh lebih sedikit dibanding motor konvensional. Tidak adanya sistem pembakaran membuat motor listrik tidak memerlukan oli mesin, busi, filter udara, kopling, maupun berbagai komponen lain yang secara rutin mengalami keausan pada kendaraan berbahan bakar bensin.
Kondisi tersebut membuat biaya perawatan harian motor listrik cenderung lebih rendah dibanding motor BBM.
Baterai Jadi Faktor Penentu
Meski demikian, motor listrik memiliki satu komponen yang menjadi perhatian utama, yakni baterai.
Berbeda dengan motor BBM yang mengandalkan mesin pembakaran internal, performa motor listrik sangat bergantung pada kondisi baterai. Seiring waktu, kapasitas baterai akan mengalami penurunan sehingga jarak tempuh kendaraan berangsur-angsur berkurang.
Secara umum, baterai lithium-ion yang digunakan pada motor listrik modern mampu bertahan antara delapan hingga sepuluh tahun atau sekitar 1.000 hingga 3.000 siklus pengisian daya, tergantung teknologi dan pola penggunaan.
Namun umur baterai dapat berkurang lebih cepat apabila pengguna sering mengosongkan daya hingga nol persen, melakukan pengisian berlebihan, menggunakan pengisi daya yang tidak sesuai, atau membiarkan kendaraan terpapar suhu ekstrem dalam waktu lama.
Karena harga baterai relatif mahal, banyak pengguna menganggap penurunan performa baterai sebagai tanda bahwa motor listrik lebih cepat rusak, padahal komponen penggerak utamanya masih dapat berfungsi dengan baik.
Motor BBM Juga Mengalami Keausan
Di sisi lain, motor BBM memiliki rekam jejak yang lebih panjang dan jaringan perawatan yang lebih luas. Namun kendaraan konvensional juga menghadapi berbagai risiko keausan seiring bertambahnya usia pemakaian.
Pemilik motor BBM harus rutin mengganti oli, busi, filter udara, serta melakukan perawatan pada sistem injeksi dan komponen mesin lainnya. Pada usia tertentu, mesin bahkan dapat memerlukan perbaikan besar atau overhaul yang biayanya tidak sedikit.
Dengan kata lain, motor BBM dan motor listrik sama-sama memiliki komponen yang akan mengalami penurunan performa seiring waktu. Perbedaannya terletak pada jenis komponen yang paling rentan dan biaya perbaikannya.
Mana yang Lebih Awet?
Jika hanya melihat motor penggeraknya, motor listrik sebenarnya memiliki potensi usia pakai yang sangat panjang karena konstruksinya lebih sederhana dibanding mesin pembakaran internal.
Banyak studi menunjukkan motor listrik dapat beroperasi lebih dari 15 tahun dengan perawatan minimal selama baterainya tetap dalam kondisi baik. Sementara motor BBM juga mampu bertahan lama, tetapi membutuhkan perawatan berkala yang lebih banyak.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah motor listrik lebih cepat rusak dibanding motor BBM, melainkan bagaimana pengguna merawat kendaraannya.
Kualitas produk, pola penggunaan, serta kedisiplinan dalam perawatan tetap menjadi faktor utama yang menentukan usia kendaraan. Dengan teknologi baterai yang terus berkembang dan garansi yang kini umumnya mencapai lima hingga delapan tahun, motor listrik tidak bisa serta-merta disebut lebih cepat rusak dibanding motor BBM.





